Lorong istana itu sunyi. Lampu-lampu gantung berayun pelan, menebarkan bayangan panjang yang menari-nari di dinding berukir naga. Kabut tipis merayap masuk dari celah jendela, membawa serta aroma cendana dan sesuatu yang dingin, seperti rahasia yang terpendam selama bertahun-tahun.
Xia Lian, kembali. Setelah lima belas tahun dianggap mati dalam pemberontakan yang mengguncang istana. Wajahnya, dulu polos dan penuh tawa, kini dipahat oleh kesedihan dan tekad yang membara. Ia berdiri di hadapan Kaisar, kakak kandungnya sendiri, yang duduk di atas takhta berlapis emas.
"Kakanda," sapa Xia Lian lembut, suaranya seperti bisikan angin di puncak gunung. "Apakah kau masih mengingatku?"
Kaisar Xuan, yang kini bergelar "Penguasa Langit," menatap adiknya dengan sorot mata yang tak terbaca. "Xia Lian. Kau… hidup?"
"Hidup," jawab Xia Lian, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Dan membawa jawaban atas pertanyaan yang selama ini membayangi istana ini."
"Pertanyaan apa?" tanya Kaisar, suaranya bergetar halus.
Xia Lian melangkah mendekat, melewati kabut yang semakin menebal. "Siapa dalang pemberontakan lima belas tahun lalu. Siapa yang mengkhianati Ayahanda."
Kaisar Xuan bangkit dari takhtanya. "Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!"
"Kau mengerti segalanya," balas Xia Lian, pandangannya menusuk. "Aku tahu kau bersekongkol dengan Perdana Menteri Han. Kau menginginkan takhta ini, dan kau rela mengorbankan Ayahanda demi ambisimu."
Kaisar Xuan tertawa. Tawa yang kering dan hampa. "Omong kosong! Aku berduka atas kematian Ayahanda! Akulah yang paling setia!"
Xia Lian menggeleng pelan. "Kesetiaan? Itu hanya topeng yang kau kenakan dengan sempurna. Aku punya bukti. Surat perjanjianmu dengan Han, disembunyikan di balik lukisan naga di paviliun barat. Aku melihatnya."
Kaisar Xuan terdiam. Kabut semakin pekat, menutupi lorong istana.
"Kau tahu," lanjut Xia Lian, suaranya nyaris berbisik, "selama ini, aku berpura-pura mati. Bersembunyi, mengumpulkan bukti, dan menunggu saat yang tepat. Aku membiarkanmu merasa aman, membiarkanmu menikmati takhta yang kau curi dengan darah dan pengkhianatan. Aku membiarkanmu bermain dengan boneka…"
Lalu, Xia Lian mengangkat tangannya. Dari balik kabut, puluhan prajurit setia, dengan seragam hitam legam, muncul. Mereka mengelilingi Kaisar Xuan, pedang mereka berkilauan di bawah cahaya lampu gantung.
Kaisar Xuan menatap mereka dengan tatapan kosong, lalu menatap Xia Lian. Ketakutan terpancar jelas di matanya.
Xia Lian tersenyum. Senyum yang dingin dan mengerikan. "Kau tidak pernah mengerti, Kakanda. Bahwa takhta ini… tak pernah menjadi tujuan akhirku."
Xia Lian maju selangkah, mendekati Kaisar Xuan. "Akulah korban? Oh, Kakanda. Yang terjadi adalah... aku yang merancang semuanya."
You Might Also Like: 0895403292432 Agen Skincare Reseller_20
Post a Comment