Hujan gerimis membasahi jembatan tua di Sungai Yangtze. Di bawah temaram lampu lentera merah, aku melihatnya. Jiang Wei. Lima tahun. Lima tahun sejak malam itu, sejak ia menggenggam tanganku, menjanjikan bintang dan bulan, lalu menghilang ditelan badai Shanghai.
Rambutnya kini lebih panjang, disisir rapi ke belakang. Setelan jas mahal membalut tubuhnya, jauh berbeda dari kemeja lusuh yang dulu selalu ia kenakan. Tapi matanya…mata itu masih sama. Tetap menyimpan kilau yang dulu membuatku rela memberikan seluruh hatiku.
"Lin Yue," sapanya, suaranya bariton yang dulu selalu kurindukan. "Lama tidak bertemu."
"Lama sekali," jawabku lirih. Dadaku terasa sesak. Lima tahun. Lima tahun aku menanggung perih, merangkai mimpi yang ia hancurkan.
Ia mendekat, mengulurkan tangannya. Aku mundur selangkah.
"Aku tahu aku mengecewakanmu." Suaranya berat. "Aku punya alasan."
Alasan. Kata itu bergaung di telingaku, memenuhi kepalaku dengan amarah yang sudah lama kupendam. Alasan apa yang bisa menebus hatiku yang hancur? Alasan apa yang bisa mengembalikan mimpiku yang hilang?
"Dulu, kau selalu memanggilku Xiǎo yuè (bulan kecil)," lanjutnya, matanya menatapku dalam. "Tapi sekarang… sekarang, aku mengganti namamu."
Napasnya terasa dekat, aroma sandalwood yang selalu ia pakai menusuk ingatanku.
"Namamu sekarang… 'JANGAN DIBUKA'."
Kata-kata itu seperti belati. Aku tahu maksudnya. Hati yang dulu ia tinggalkan, kini ia inginkan kembali. Ia ingin membuka kotak Pandora yang sudah lama kukunci rapat.
Aku tertawa sinis. "Lima tahun lalu, kau membuang kunci itu ke sungai ini. Sekarang, kau ingin aku menyelam untuk mencarinya?"
Ia terdiam. Hujan semakin deras. Bayangan kami memanjang, terdistorsi oleh genangan air di jembatan.
"Aku tahu aku salah, Yue," bisiknya. "Tapi aku… aku selalu memikirkanmu."
"Memikirkanku sambil menikahi putri keluarga Zhao?" Aku mendongak, menantang tatapannya. "Memikirkanku sambil membangun imperiummu di atas mimpi-mimpiku?"
Ia menunduk. Tak mampu menyangkal.
"Kau tahu, Wei?" Aku mendekat, suaraku berbisik seperti desiran angin. "Dulu, aku ingin menjadi istrimu. Sekarang… aku hanya ingin kau tahu bagaimana rasanya kehilangan."
Aku berbalik, meninggalkannya berdiri di bawah guyuran hujan. Langkahku ringan, seolah beban yang selama ini membelenggu hatiku terlepas. Aku tahu, karma bekerja dengan cara yang misterius. Pernikahannya dengan putri Zhao, yang ia kira akan membawanya menuju puncak kejayaan, justru akan menjadi awal kehancurannya. Karena aku… aku yang akan menariknya jatuh.
Tepat saat aku menaiki taksi yang sudah menunggu, kulihat dari kaca spion. Jiang Wei masih berdiri di sana, terdiam di bawah lampu lentera merah, seperti hantu dari masa lalu yang tak bisa ia lupakan.
Apakah ini akhir dari cinta yang dulu pernah ada, atau awal dari permainan yang lebih mematikan?
You Might Also Like: Jual Skincare Non Komedogenik Untuk
Post a Comment