Hujan menggigil menusuk tulang. Dinginnya merayap masuk ke dalam gubuk reyot tempat Lin duduk bersimpuh. Di tangannya, lentera tua menyala redup, cahayanya berkedip-kedip seolah ikut berduka. Di luar, bayangan pohon bambu menari-nari liar, patah dan tak beraturan, serupa dengan hatinya.
Dulu, gubuk ini adalah saksi bisu cinta mereka. Lin dan Mei. Nama Mei, dalam benaknya, terasa seperti racun yang manis. Ingatan tentang senyum Mei, tawanya yang renyah, sentuhannya yang dulu begitu memabukkan, kini hanya menghadirkan perih yang tak terperi.
Lima tahun lalu, di bawah langit yang sama, Mei memilih Wu, seorang pedagang kaya raya. Ia meninggalkan Lin, seorang pemuda miskin yang hanya punya cinta dan janji-janji kosong. Lin tidak menyalahkannya. Dunia memang kejam. Dunia lebih memilih kilauan emas daripada ketulusan hati.
Setiap kali melihat Mei tersenyum di depan umum, Lin merasa terhina. Senyum itu, senyum yang seharusnya menjadi miliknya, dipamerkan pada dunia. Orang-orang melihatnya sebagai kebahagiaan, sebagai keberuntungan. Mereka tidak tahu, di balik senyum itu, tersembunyi seorang wanita yang menghancurkan hidup seorang pria.
Lin menghabiskan waktunya menyendiri. Hari-harinya diisi dengan KEBENCIAN dan RENCANA. Dia belajar bela diri, berlatih setiap hari hingga tangannya berdarah. Dia mempelajari taktik dan strategi, menyusun setiap langkah dengan kehati-hatian seorang Jenderal.
Lima tahun. Lima tahun adalah waktu yang cukup untuk menyembunyikan kebencian di balik senyum palsu. Lin berhasil menjadi orang kepercayaaan Wu. Dia naik pangkat dengan cepat, memanipulasi, berbohong, dan menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Wu melihat Lin sebagai seorang yang loyal dan kompeten. Dia tidak tahu, Lin adalah NARAPIDANA dendam.
Malam ini, Lin berencana melakukan apa yang sudah lama dia impikan. Hujan semakin deras, seolah alam pun turut merestui. Dia memasuki rumah Wu, menyelinap seperti bayangan. Mei sedang tertidur lelap. Di sampingnya, Wu mendengkur keras.
Lin berdiri di tepi ranjang, menatap Mei dengan tatapan dingin. Tidak ada lagi cinta. Tidak ada lagi ampun. Hanya ada dendam dan kebutuhan untuk membalas.
"Mei," bisiknya pelan. "Kau tersenyum pada dunia, tapi dunia tidak tahu siapa yang kau benci."
Mei membuka matanya. Ketakutan terpancar jelas di wajahnya. Dia mencoba berteriak, tapi Lin membekap mulutnya.
"Jangan takut," kata Lin dengan suara yang menyeramkan. "Ini akan segera berakhir."
Dia menarik belati dari balik jubahnya. Cahaya lentera menangkap kilau tajamnya.
Saat belati itu terangkat, Lin teringat sesuatu. Sesuatu yang mengubah segalanya. Sesuatu yang membuat tangannya gemetar.
"Lima tahun lalu," ucap Mei dengan suara bergetar, "Aku melakukan itu... demi MELINDUNGIMU."
Lalu, semuanya menjadi gelap.
Dan pertanyaan yang tak terjawab menggantung di udara: Siapakah ayah dari anak yang dikandung Mei lima tahun lalu, dan mengapa Lin tidak pernah mengetahuinya?
You Might Also Like: Distributor Skincare Bisnis Rumahan Di
Post a Comment