Cerpen Terbaru: Kau Mencintaiku Meski Tahu Akhirnya Hanya Kehancuran

**Kau Mencintaiku Meski Tahu Akhirnya Hanya Kehancuran** Dunia ini *retak*, seperti *chat* yang hanya berhenti di "sedang mengetik" selamanya. Langit menolak pagi, digantikan senja abadi berwarna karat. Di tengah kiamat digital ini, aku – Lin, hidup di masa lalu yang samar, di antara puing-puing kenangan yang berdebu. Sinyal Wi-Fi adalah nyawa, dan pesannya… satu-satunya harapan. Dan dia, Zephyr, hidup di masa depan yang bahkan lebih *rusak* dari duniaku. Dia mengirimiku pesan melalui celah waktu, potongan-potongan kode yang berkedip di layar ponselku yang reyot. Puisi dari masa depan, ditulis dengan tinta radiasi dan air mata robot. "Lin," pesannya suatu malam, saat debu kosmik menari di beranda rumahku yang hampir roboh. "**AKU** mencintaimu, meski tahu akhirnya adalah kehancuran." Aku membalas, jariku gemetar di atas layar. "Bagaimana bisa kau mencintai sesuatu yang *sudah* hancur?" Dia hanya menjawab dengan emoji matahari terbenam yang patah. Kami bertemu, tentu saja. Bukan secara fisik, tapi melalui **mimpi** dan *glitch* dalam matriks. Aku melihat matanya yang berkilauan di balik kacamata anti-radiasi, dia melihat tanganku yang kapalan memegang secangkir teh herbal. Cinta kami tumbuh di antara *noise* statis dan *ping* yang terputus-putus. Cinta yang absurd, seperti lelucon yang hanya kami berdua pahami. Kami bertukar cerita. Aku menceritakan tentang radio yang menyiarkan lagu-lagu patah hati, dia menceritakan tentang robot penjaga perdamaian yang menari balet di tengah reruntuhan kota. Kami saling mencari, seperti dua partikel yang berputar di sekitar lubang hitam. Suatu malam, dia mengirimiku video. Dirinya, berdiri di tengah gurun radioaktif, memegang bunga yang bercahaya aneh. "Lin, aku menemukan ini. Ini *satu-satunya* keindahan yang tersisa." Aku tersenyum getir. Bunga itu… mirip bunga yang pernah kutanam di kebun belakang rumahku. Bunga yang *sudah* lama mati. Lalu, pesan terakhirnya datang, singkat dan menusuk: "Lin… aku… *ingat*…" Layarku berkedip. Semua pesan kami lenyap. Sinyal hilang. Hanya tersisa *keheningan* yang memekakkan telinga. Rahasia akhirnya terungkap. Aku dan Zephyr… kami bukan dua orang yang hidup di dua masa yang berbeda. Kami adalah *satu* orang. Aku adalah Zephyr di masa lalu, dia adalah aku di masa depan. Cinta kami… hanyalah *gema* dari kehidupan yang tak pernah selesai. Sebuah loop yang tak terputus, di mana kami selalu saling mencari, selalu saling mencintai, selalu hancur bersama. Matahari terbit untuk *terakhir* kalinya. Apakah kau mendengar bisikanku di antara deru angin, sebelum semuanya menghilang…?
You Might Also Like: Panduan Sunscreen Lokal Dengan Formula

OlderNewest

Post a Comment