Endingnya Gini! Mahkota Itu Jatuh, Tapi Yang Retak Justru Hatinya.

**Mahkota Itu Jatuh, Tapi Yang Retak Justru Hatinya** Di istana *Mimpi Abadi*, di mana waktu menari dalam pusaran kabut lavender, hiduplah seorang putri bernama Lian. Kecantikannya adalah rembulan yang memudar di balik awan sutra, senyumnya adalah bisikan angin di antara bunga persik yang mekar. Ia terikat pada takhta yang dingin, pada tradisi yang membungkam jiwanya. Lian bermimpi tentang seorang pangeran. Bukan pangeran dari kerajaan yang bertikai atau aliansi politik, melainkan pangeran dari dimensi lain, dari lukisan yang belum selesai. Namanya Kai, terukir di setiap helai rambut Lian, terpatri di setiap degup jantungnya. Kai muncul dalam mimpi Lian, dalam siluet remang cahaya lilin di perpustakaan istana. Ia membawa buku-buku kuno yang halamannya berbisik tentang cinta lintas waktu, tentang bintang-bintang yang bertaburan di antara dua dunia. Mereka menari di taman yang selalu musim semi, di mana air terjunnya adalah air mata dewi yang merindukan kekasihnya. Sentuhan Kai *selembut* embun pagi, tatapannya *sedalam* samudra yang menyimpan rahasia abadi. Namun, Kai hanyalah *ilusi*. Sentuhan jari Lian akan menembus dirinya, seperti mencoba menggenggam asap. Ia adalah pantulan dari kerinduan Lian, proyeksi dari jiwa yang terpenjara. Istana nyata, takhta nyata, tetapi cinta mereka adalah *fantasi*, serpihan kaca yang memantulkan keindahan yang menyakitkan. Suatu malam, saat bulan purnama tergantung seperti mutiara raksasa di langit, Lian menemukan sebuah kotak musik tua. Di dalamnya, terbaring sehelai syal sutra berwarna nila, dengan bordiran bunga persik yang familiar. Saat Lian menyentuhnya, sebuah memori *membanjiri* benaknya: Ia melihat dirinya, bukan sebagai putri, melainkan sebagai pelukis. Kai, bukan pangeran, melainkan modelnya, inspirasinya. Mereka bertemu di tepi danau berkabut, Lian mengabadikan ketampanan Kai dalam setiap goresan kuas. Cinta mereka nyata, **dahulu kala**. Namun, Kai mengidap penyakit langka, penyakit yang menggerogoti ingatannya. Ia melupakan Lian, melupakan lukisan mereka, melupakan segalanya. Hatinya yang terluka menciptakan dimensi paralel, di mana ia terus-menerus memimpikan Kai, menciptakannya kembali dalam setiap mimpinya. Kotak musik itu adalah *jembatan* antara dua dunia, antara kenangan yang memudar dan ilusi yang abadi. Mahkota yang sesungguhnya, bukanlah mahkota di kepala Lian, melainkan *mahkota kenangan* yang kini runtuh, meremukkan hatinya menjadi debu. "Kau selalu di sini, bukan? Di dalam lukisan, di dalam mimpi... dan di dalam *kenangan yang aku ciptakan* untuk diriku sendiri." Lian berbisik, air mata mengalir membasahi syal sutra. Kebenaran itu terungkap, indah sekaligus menyakitkan. Keindahan ilusi Kai selama ini adalah penanda betapa besar luka yang harus Lian tanggung. Mungkin... di kehidupan yang lain, kita akan bertemu *kembali*, tanpa kabut, tanpa ilusi.
You Might Also Like: David Ashley Parker From Powder Springs

OlderNewest

Post a Comment