Cerpen Seru: Kau Menatapku Di Tengah Upacara, Dan Mata Kita Berbicara Lebih Jujur Dari Sumpah

**Kau Menatapku di Tengah Upacara, dan Mata Kita Berbicara Lebih Jujur dari Sumpah** Kabut tipis menyelimuti Bukit Jade saat aku, Lian, berdiri di sampingnya. Xiao Feng. Saudaraku, sahabatku, *musuhku*. Upacara pelantikannya sebagai Pemimpin Klan Naga Putih terasa bagai lelucon pahit. Dulu, kami berlatih pedang di bawah pohon sakura yang sama, berbagi mimpi yang sama, dan saling berjanji untuk selalu melindungi. Kini, di tengah gemerlap sutra dan arak sake, ada jurang tak terkatakan yang menganga di antara kami. "Selamat, Xiao Feng," bisikku, bibirku nyaris tak bergerak. Senyumnya, oh, senyum itu. Dulu menghangatkanku, kini terasa dingin bagai bilah pedang yang baru diasah. "Terima kasih, Lian. Aku berharap kau akan terus mendukungku," jawabnya, matanya berkilat licik. *Mendukung?* Setelah semua yang dia lakukan? Kami tumbuh bersama di bawah asuhan Guru Hua, yang mengajari kami seni bela diri dan kebijaksanaan kuno. Guru selalu memujiku atas ketenangan dan kecerdasan strategisku, sementara Xiao Feng bersinar karena kekuatan dan karismanya. Aku tidak pernah iri. Aku bangga padanya. Sampai aku menemukan manuskrip itu. *Manuskrip terkutuk itu*. Di dalamnya tertulis sejarah Klan Naga Putih yang sebenarnya. Bukan kisah kepahlawanan dan kemuliaan, tapi pengkhianatan dan pembantaian. Tertulis jelas bahwa leluhur Xiao Feng, demi kekuasaan, telah mengkhianati Klan Phoenix Merah – klan ibuku. Klan yang dibantai habis, hanya menyisakan aku. Xiao Feng *Tahu*. Aku bisa melihatnya di matanya. Dia tahu bahwa aku tahu. Setiap percakapan kami setelah itu adalah tarian pedang. Senyum adalah tameng, kata-kata adalah bilah yang saling menguji. "Kau tampak murung, Lian. Apa ada yang mengganggumu?" tanyanya suatu malam, saat kami duduk di bawah rembulan purnama. "Hanya kenangan, Xiao Feng. Kenangan akan masa lalu," jawabku, menyembunyikan tinju yang mengepal di balik lengan bajuku. "Kenangan bisa menyesatkan, Lian. Terkadang, lebih baik melupakannya," balasnya, tatapannya menusuk. Namun, aku tidak bisa melupakan. Aku tidak *akan* melupakan. Upacara mencapai puncaknya. Xiao Feng berdiri di puncak altar, jubah kebesarannya berkibar ditiup angin. Dia mengangkat pedang pusaka Klan Naga Putih, cahayanya menyilaukan. Saat itulah, matanya bertemu mataku. Di tengah keramaian, di tengah keagungan upacara, hanya ada kami berdua. Aku melihat *ketakutan*. Aku melihat *penyesalan*. Aku melihat *kebenaran*. Dia *diperintahkan* untuk membunuhku. Oleh tetua klan yang takut rahasia itu akan terungkap. Dia mencintaiku, aku tahu itu. Tapi dia lebih mencintai kekuasaan. Aku tersenyum. Malam itu, Bukit Jade bermandikan darah. Bukan darah pengorbanan, tapi darah *pembalasan*. Pedangku menari dengan anggun, menebas penjaga dan anteknya. Aku bergerak seperti hantu, dipandu oleh kemarahan dan dendam. Aku menemukannya di ruang tahta, tubuhnya bersimbah darah. "Kenapa, Lian? Kenapa kau melakukan ini?" bisiknya lemah. "Kau tahu kenapa, Xiao Feng. Kau selalu tahu," jawabku, pedangku berlumuran darahnya sendiri. Dia terbatuk, darah menyembur dari mulutnya. "Aku... aku mencintaimu..." Aku berlutut di sampingnya, menatap matanya yang meredup. "Aku juga mencintaimu... Dulu..." Aku menusukkan pedangku sekali lagi, menyelesaikan apa yang seharusnya kulakukan sejak lama. Klan Naga Putih hancur. Klan Phoenix Merah telah terbalaskan. Tapi di sini, di tengah kehancuran, aku merasa lebih kosong dari sebelumnya. Aku berdiri di puncak Bukit Jade, angin menderu di sekelilingku. Dunia terasa sunyi. Satu kalimat menggantung, nyaris tak terdengar di tengah angin malam, lepas dari bibirku yang bergetar: "Mungkin... mungkin aku lebih jahat dari yang mereka kira..."
You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Terbaik Dengan_21

OlderNewest

Post a Comment