Oke, siap! Mari kita mulai: **Kau Menatapku di Tengah Upacara, dan Mata Kita Berbicara Lebih Jujur dari Sumpah** Langit Beijing abu-abu, seperti layar *error* yang tak kunjung selesai *loading*. Di tengah upacara pertunangan yang megah, dengan lampion merah bergantungan seperti tetesan darah di langit-langit gedung pencakar langit, mataku terkunci pada sepasang mata. Bukan mata tunanganku, Liu Wei, yang berkilau oleh permata dan ambisi. Bukan. Mata itu... milik pria asing. Dia berdiri di antara kerumunan, mengenakan jubah Tao usang yang kontras dengan jas mahal para tamu undangan. Wajahnya tirus, dengan tulang pipi tinggi dan rahang tegas. Dan matanya... Ya Tuhan, matanya. Di dalamnya ada sejarah yang lebih tua dari Tembok Besar, ada kerinduan yang lebih dalam dari Palung Mariana. Dan dia MENATAPKU. Waktu seolah membeku. Musik *erhu* yang melengking, suara tawa dibuat-buat para tamu, bahkan bisikan janji pertunangan Liu Wei, semuanya lenyap. Hanya ada mata itu, dan tatapanku yang membalas. *Kata-kata tak terucap mengalir deras*. Sebuah percakapan sunyi, lebih jujur dari semua sumpah setia yang pernah diucapkan di muka bumi. Matanya bercerita tentang taman lavender yang diterangi cahaya rembulan, tentang puisi yang ditulis di atas daun maple yang gugur, tentang janji abadi di bawah pohon *sakura* yang mekar. Aku tahu, meski aku tak pernah bertemu dengannya sebelumnya. Atau mungkin... aku pernah? *** Malam itu, aku mendapati diriku di *rooftop* gedung. Angin menggigit kulitku, tapi aku tak peduli. Aku merasa ditarik ke suatu tempat, ke suatu masa yang bukan milikku. Notifikasi di ponselku berkedip-kedip: pesan dari Liu Wei. Tapi aku mengabaikannya. Tiba-tiba, sebuah sinyal hilang muncul di layarku. Kemudian, lampu-lampu kota padam satu per satu, seperti bintang yang jatuh ke bumi. Dan kemudian, aku melihatnya lagi. Bayangan itu, di tengah kegelapan yang pekat. "Siapa kau?" tanyaku, suaraku bergetar. Bayangan itu mendekat. Samar-samar, aku bisa melihat wajahnya. Lebih jelas sekarang. Lebih... nyata. "Namaku Li Wei," jawabnya, suaranya serak. "Aku... adalah kau, di masa lalu." Aku tertegun. Apa maksudnya? "Kau... adalah aku?" Li Wei tersenyum sedih. "Kita terpisah oleh waktu, terikat oleh takdir yang tak pernah selesai. Cinta kita... adalah gema dari kehidupan yang tak pernah kita jalani bersama." Dia mendekatiku, mengulurkan tangannya. Tangan yang kasar, penuh luka. Tangan yang merindukan sentuhanku. "Pilihlah," bisiknya. "Pilihlah aku, dan lupakan masa depan yang *palsu* ini. Atau lupakan aku, dan nikahi pria yang bahkan tak melihat jiwamu." Ponselku berdering lagi. Nama Liu Wei terpampang di layar. Aku menatap layar itu, lalu menatap mata Li Wei. Pilihan ada di tanganku. Tetapi, sebelum aku bisa menjawab, sebuah ledakan dahsyat mengguncang kota. Langit terbelah, dan bumi bergetar. Dunia runtuh. Li Wei meraihku. "Waktunya sudah tiba!" Aku memejamkan mata, pasrah. *** *** *Mungkin... inilah pesan terakhirku, sebelum semuanya padam:* Jangan lupakan aku, walau hanya sekejap, karena di sanalah, di *sesaat* itu, cinta kita hidup.
You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Jualan Kosmetik
Post a Comment