Delapan tahun. Delapan tahun sejak ia terakhir kali menatap mata Gao Wei, mata yang dulu memancarkan cinta yang begitu DALAM, begitu absolut. Sekarang, mata itu hanya memancarkan tatapan kosong, atau lebih buruk, tatapan jijik.
"Kau memanggilku?" suara Gao Wei memecah kesunyian, dingin dan tajam seperti pecahan es. Mei Lan tidak berani menatapnya. Ia tahu, wajahnya pasti mencerminkan luka yang masih menganga lebar.
"Aku..." Mei Lan memulai, suaranya bergetar. "Aku hanya ingin tahu... mengapa?"
Gao Wei mendengus. "Mengapa? Apa kau masih bertanya mengapa, setelah semua yang kau lakukan?"
Hujan semakin deras. Mei Lan membayangkan air mata yang bercampur dengan air hujan di pipinya. "Aku tidak pernah berniat menyakiti siapa pun, Wei. Aku hanya..."
"Hanya apa? Hanya ingin merebut TAHTA yang seharusnya menjadi milik kakakku? Hanya ingin menghancurkan semua yang aku cintai?"
Setiap kata yang diucapkan Gao Wei seperti cambuk yang menghantam hatinya. Dulu, ia akan membantah dengan keras. Dulu, ia akan memohon agar Gao Wei mempercayainya. Tapi sekarang? Sekarang, ia hanya bisa menundukkan kepala, membiarkan tuduhan itu menghujaninya seperti badai.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," akhirnya Mei Lan berbisik, suaranya nyaris tak terdengar.
Gao Wei mendekat, langkahnya lambat dan mengancam. Ia meraih dagu Mei Lan, memaksanya untuk menatap matanya. "Kau pikir aku bodoh, Mei Lan? Aku tahu segalanya. Aku tahu tentang surat-surat yang kau kirimkan kepada Jenderal Li, tentang perjanjianmu dengan klan Su... semuanya."
Mei Lan merasakan jantungnya berdebar kencang. Bagaimana bisa ia tahu? SIAPA yang membocorkan rahasianya?
"Aku... aku melakukan semua itu untuk melindungimu," Mei Lan membela diri, walau suaranya masih bergetar. "Klan Su berencana untuk merebut tahta, dan Jenderal Li adalah satu-satunya yang bisa menghentikan mereka."
Gao Wei tertawa sinis. "Melindungiku? Dengan mengkhianati kakakku? Dengan bersekongkol dengan musuh?"
Cahaya lentera semakin redup, seolah ikut merasakan kepedihan mereka. Bayangan mereka menari-nari di dinding, dua sosok yang dulu begitu dekat, kini terpisah jurang pengkhianatan.
"Aku..." Mei Lan berusaha menjelaskan, namun Gao Wei mengangkat tangannya, menghentikannya.
"Cukup! Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu lagi." Ia melepaskan dagu Mei Lan, berbalik dan berjalan menuju pintu.
"Wei..." Mei Lan memanggilnya, putus asa.
Gao Wei berhenti di ambang pintu, tanpa berbalik. "Aku datang ke sini untuk memberitahumu... malam ini adalah malam terakhirmu di istana ini."
Mei Lan terdiam. Ia tahu apa yang dimaksud Gao Wei. Ia akan dibuang, dikucilkan, mungkin bahkan dibunuh. Tapi ia tidak peduli. Satu-satunya hal yang membuatnya sakit adalah kehilangan cinta Gao Wei.
Saat Gao Wei hendak melangkah keluar, Mei Lan akhirnya mengangkat kepalanya dan menatapnya lurus-lurus.
"Kau salah, Wei," katanya dengan suara tenang, TERAMAT TENANG. "Malam ini bukanlah malam terakhirku. Malam ini adalah malam terakhir bagimu. Karena, selama ini, bukan aku yang merencanakan pengkhianatan. Selama ini, bukan aku yang berusaha merebut tahta. Selama ini... aku hanya boneka. Dan dalangnya... adalah IBUMU."
You Might Also Like: Discover Your Intellectual Potential
Post a Comment