Cerpen: Air Mata Yang Menjadi Penghapus Takhta

Air Mata yang Menjadi Penghapus Takhta

Embun pagi merayap di kelopak mawar istana, serupa dengan air mata yang mengalir di pipi Lian, putri mahkota yang hidup dalam KEBOHONGAN. Takhtanya adalah ilusi, senyumnya adalah topeng, dan setiap kata yang terucap adalah lagu duka yang disembunyikan. Lian tahu, dia bukan darah daging kaisar, dia hanyalah bidak dalam permainan politik yang kejam.

Sementara itu, di balik gemerlap istana, tersembunyi sosok Wei, seorang cendekiawan muda yang menyimpan dendam membara. Ayahnya, seorang jenderal setia, difitnah dan dieksekusi atas perintah kaisar. Wei mencari KEBENARAN, mencari bukti yang akan meruntuhkan takhta yang dibangun di atas darah dan air mata. Setiap langkahnya adalah titian di atas bara, setiap informasi yang ia kumpulkan adalah pecahan kaca yang melukai telapak kakinya.

"Kebenaran bagaikan matahari," bisik Wei pada dirinya sendiri, "ia akan membakar semua kegelapan, bahkan jika harus menghancurkan hatiku sendiri."

Pertemuan Lian dan Wei takdirkan, namun dibalut kecurigaan. Lian melihat dalam diri Wei, secercah harapan untuk kebebasan, sementara Wei melihat dalam diri Lian, kunci menuju kebenaran yang selama ini ia cari. Mereka berdansa dalam labirin intrik istana, saling menguji, saling memanfaatkan, namun tanpa sadar, benih-benih CINTA mulai tumbuh di antara mereka.

Konflik semakin meruncing ketika Wei menemukan bukti yang tak terbantahkan: Lian adalah anak haram seorang selir rendahan, bukan putri kandung kaisar. Takhta yang selama ini ia genggam adalah TIPUAN belaka. Wei dihadapkan pada pilihan sulit: mengungkapkan kebenaran dan menghancurkan Lian, atau mengubur dendamnya dan melindunginya.

Namun, kebenaran memiliki caranya sendiri untuk terungkap. Sebuah pengkhianatan dari orang terdekat Lian, memaksa Wei untuk mengungkap segalanya di hadapan seluruh istana. Kaisar murka, Lian hancur, dan takhta yang selama ini menjadi tujuannya, lenyap dalam sekejap.

Di tengah kekacauan, Wei membantu Lian melarikan diri. Mereka bersembunyi di sebuah desa terpencil, jauh dari hiruk pikuk istana. Di sana, Lian melepaskan topengnya, menjadi dirinya yang sebenarnya. Ia belajar bertani, tertawa lepas, dan merasakan kebebasan yang selama ini diimpikannya.

Namun, kedamaian itu tak berlangsung lama. Kaisar mengirimkan pasukan untuk menangkap Lian dan Wei. Pertempuran sengit tak terhindarkan. Wei bertarung dengan gagah berani, melindungi Lian dengan nyawanya. Namun, ia terluka parah.

Di saat-saat terakhirnya, Wei menatap Lian dengan CINTA yang tulus. "Takhtamu mungkin hilang, Lian," bisiknya, "tapi kau telah menemukan dirimu sendiri. Itu adalah takhta yang jauh lebih berharga."

Kematian Wei menghancurkan hati Lian. Namun, air matanya bukan lagi air mata keputusasaan, melainkan air mata TEKAD. Ia kembali ke istana, bukan sebagai putri mahkota, melainkan sebagai seorang PEMBALAS.

Dengan tenang namun mematikan, Lian mengungkap semua kejahatan kaisar. Ia membuktikan bahwa ayahnya Wei difitnah, bahwa takhtanya diraih dengan cara yang curang. Rakyat marah, para pejabat berkhianat, dan kaisar akhirnya kehilangan segalanya.

Lian tidak membunuh kaisar. Ia hanya membiarkannya hidup dalam kehinaan, menyaksikan takhta yang dibangunnya runtuh menjadi debu. Ia membiarkan kaisar merasakan penderitaan yang sama seperti yang dirasakan ayahnya Wei.

Lian meninggalkan istana untuk selamanya. Sebelum pergi, ia tersenyum pada potret kaisar, senyum yang menyimpan PERPISAHAN abadi.

"Takhta bisa dibangun kembali," bisiknya dalam hati, "tapi harga diri yang hilang, takkan pernah kembali."

Akankah Lian menemukan kedamaian, ataukah dendam akan terus menghantuinya?

You Might Also Like: 0895403292432 Peluang Bisnis Skincare_26

Post a Comment