Baiklah, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Aku Adalah Error Yang Membuatnya Menangis': **Aku Adalah Error Yang Membuatnya Menangis** Kabut pegunungan Lushan menggantung pekat, menyelimuti kuil kuno di puncaknya seperti kerudung duka. Dulu, di sanalah *kami* berjanji. Dulu, di sanalah aku *mati*. Sekarang, aku berdiri di ambang pintunya, angin dingin menggigit tulang, namun hatiku membara. Di dalam, ia duduk di depan altar, lilin-lilin merah menari-nari di wajahnya yang tirus. Wajah yang dulu selalu kutemukan di antara ribuan wajah. Wajah yang kini dipenuhi guratan penyesalan. Kaisar Longwei. Suamiku. Pembunuhku? "Aku tahu kau akan kembali, Xia Lian," ucapnya tanpa menoleh. Suaranya serak, seperti daun kering yang diinjak. "Atau... apakah aku harus memanggilmu Putri An Ran?" Aku melangkah maju, setiap langkah menggema di kesunyian kuil. "An Ran sudah lama mati, Yang Mulia. Tinggal Xia Lian yang tersisa. Xia Lian yang kau biarkan terjun ke jurang, Xia Lian yang kau lupakan." Ia akhirnya menoleh. Matanya yang dulu penuh gairah, kini redup, diliputi kesedihan. "Aku *tidak* melupakanmu, Lian'er. Setiap hari aku merindukanmu. Aku… mencari cara untuk membalas dendam pada mereka yang bertanggung jawab." "Benarkah?" Aku tersenyum sinis. Senyum yang tidak mencerminkan kebahagiaan. Senyum yang menyimpan dendam. "Atau kau hanya menyesali konsekuensi dari perbuatanmu? Menyesali bahwa 'kecelakaan' itu justru mengungkap kebenaran yang kau sembunyikan rapat-rapat?" Ia berdiri, mendekatiku. Bau dupa dan aroma pahit penyesalan memenuhi indra penciumanku. "Kebenaran apa, Lian'er? Katakan padaku! Aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku." "Kebenaran bahwa kau *tahu*, Yang Mulia. Kau tahu persis siapa yang membunuh ayahku. Kau tahu persis kenapa Paman Li mengkhianatiku. Kau tahu persis… bahwa racun yang membunuhku bukanlah racun yang *salah*." Matanya membelalak. Setitik keringat dingin menetes di pelipisnya. "Tidak! Aku bersumpah… aku *tidak* tahu…" Aku tertawa. Tawa yang dingin dan menusuk, seperti angin dari puncak Lushan. "Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau telah bersekutu dengan Paman Li sejak lama? Bahwa semua ini, semua tragedi ini… hanyalah bagian dari rencanamu untuk merebut takhta?" Ia terhuyung mundur, membentur altar. Lilin-lilin berguguran, memadamkan cahayanya satu per satu. "Kau… *ERROR* yang tidak kuperhitungkan, Xia Lian," bisiknya lirih. "Kau, dengan cintamu yang buta, dengan kesetiaanmu yang bodoh… kau menggagalkan rencanaku." Aku mendekatinya, membisikkan kata-kata terakhir di telinganya. Kata-kata yang akan menghantuinya selamanya. Kata-kata yang akan membuktikan bahwa *aku*, sang korban, justru memegang kendali sejak awal. "Kau salah, Yang Mulia. Aku bukan error. Aku adalah **PROGRAMMER-NYA.**"
You Might Also Like: Agen Kosmetik Passive Income Kota
Post a Comment