FULL DRAMA! Cinta Yang Terlambat Menyadari Luka

**Cinta yang Terlambat Menyadari Luka** Lorong Istana Timur bagaikan urat nadi yang terlupakan, diliputi keheningan kelam yang hanya sesekali dipecah gemerisik jubah sutra. Kabut tipis menyelimuti Puncak Awan, menyimpan rahasia yang lebih tua dari Dinasti itu sendiri. Di sanalah, *LI WEI*, yang dulu dianggap gugur dalam pemberontakan sepuluh tahun lalu, berdiri. Wajahnya lebih tirus, matanya lebih tajam, namun auranya masih memancarkan kelembutan yang dulu membuat Putri Lan Hua jatuh cinta. Putri Lan Hua, kini Permaisuri Agung, menantinya di Paviliun Anggrek. "Wei," bisik Lan Hua, suaranya bergetar seperti daun yang diterpa angin musim gugur. "Aku...aku tidak percaya. Kau masih hidup." Li Wei membungkuk hormat, namun matanya dingin. "Hidup, Yang Mulia. Dan kembali untuk menunaikan janji." "Janji apa?" Lan Hua menatapnya, kebingungan merajai wajahnya yang anggun. "Janji untuk mengungkap kebenaran," jawab Li Wei, nadanya selembut sutra namun menusuk bagai jarum. "Kebenaran tentang malam pemberontakan, tentang siapa dalang sebenarnya." Lan Hua terdiam. Cahaya lentera memantul dari matanya, menyembunyikan rahasia yang terpendam di sana. "Kisah-kisah masa lalu sebaiknya dibiarkan berlalu, Wei. Kebenaran hanya akan menyakiti lebih banyak orang." Li Wei tersenyum tipis. "Apakah Yang Mulia takut kebenaran akan menyakiti diri sendiri?" Ia melangkah mendekat, aroma cendana dan darah menguar dari tubuhnya. "Aku tahu, Lan Hua. Aku tahu kau yang merencanakan semuanya. Pemberontakan, kematianku...semuanya." Lan Hua tertawa hambar. "Kau gila! Aku mencintaimu!" "Cinta? Atau ambisi?" Li Wei menunjuk lukisan anggrek di dinding. "Anggrek memang indah, tapi ia bisa menjerat pohon lain sampai mati untuk mencapai puncak. Sama seperti dirimu." Tangan Lan Hua gemetar. "Kau...kau tidak bisa membuktikannya." "Oh, tapi bisa," Li Wei mengeluarkan sebuah jimat giok dari balik jubahnya. Jimat yang dulu diberikan Lan Hua kepadanya sebagai tanda cinta. Di balik giok itu, terukir perintah rahasia untuk memicu pemberontakan. "Kau mengkhianatiku!" Lan Hua berteriak, amarahnya meledak. Li Wei menggelengkan kepala. "Tidak, Yang Mulia. Kau yang mengkhianati dirimu sendiri. Kau yang memilih kekuasaan daripada cinta. Dan sekarang, kau akan menuai apa yang kau tabur." "Apa yang akan kau lakukan?" tanya Lan Hua, suaranya lirih. Li Wei mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Lan Hua. Kata-kata itu bagaikan mantra kematian, membuat wajah Lan Hua pucat pasi. "Aku akan memastikan *kerajaanmu* hancur dari dalam, seperti cintamu menghancurkanku." Di pagi hari, Permaisuri Agung ditemukan tewas di Paviliun Anggrek. Penyebab kematian: serangan jantung mendadak. Li Wei menghilang tanpa jejak, meninggalkan istana dalam kebingungan dan kekacauan. Namun, sebelum pergi, dia meninggalkan sepucuk surat untuk Kaisar. Surat yang mengungkap semua kejahatan Permaisuri, surat yang menghancurkan dinasti itu dari akarnya. Kebenaran memang selalu pahit, namun kebohongan bisa lebih mematikan. Dan terkadang, **KORBAN SEJATI ADALAH PEMAIN UTAMA DALAM SANDIWARA INI.**
You Might Also Like: 0895403292432 Diskon Skincare Lokal

OlderNewest

Post a Comment