Pedang Itu Menghapus Luka Ratu, Tapi Juga Menghapus Kehidupannya
Seratus tahun. Seratus musim semi berganti gugur, seratus pasang rembulan menyaksikan lautan bergejolak dan bintang-bintang berjatuhan. Namun, takdir, seperti benang merah yang tak kasat mata, terus menjalin kedua jiwa ini, membawa mereka kembali ke panggung dunia.
Bai Lianhua, Ratu yang jatuh di masa lalu, kini terlahir kembali sebagai Lin Yue, seorang gadis desa yang sederhana. Kehidupan damainya tiba-tiba terusik ketika ia menemukan sebuah pedang pusaka di sungai—pedang yang sama yang mengakhiri hidupnya di kehidupan sebelumnya. Sentuhan dingin bilahnya membangkitkan kenangan samar, potongan-potongan adegan yang terasa asing namun familiar, aroma darah dan bunga persik yang memabukkan.
Di sisi lain, berdiri Feng Yichen, Pangeran Mahkota yang dingin dan berkuasa. Tatapannya tajam, seolah menyimpan badai abadi di kedalamannya. Ia selalu merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya, sebuah kekosongan yang tak terisi meski dengan kekuasaan dan kemewahan. Suatu hari, ia mendengar nyanyian Lin Yue—sebuah melodi kuno yang menusuk hatinya, membangkitkan gema dari masa lalu.
"Suaramu... Aku seperti pernah mendengarnya," bisik Feng Yichen, menatap Lin Yue dengan intens.
Lin Yue, yang terganggu oleh penglihatan masa lalunya, merasa tertarik dan takut pada Pangeran. Ia adalah reinkarnasi dari pria yang dicintainya, namun juga pria yang menghancurkannya. Kenangan itu perlahan terungkap—pengkhianatan, intrik istana, dan sumpah setia yang dilanggar.
Bunga persik, yang dulu menjadi saksi bisu janji cinta mereka, kini bermekaran kembali, menyebarkan aroma yang sama di taman istana. Namun, kali ini, aroma itu membawa kesedihan yang mendalam. Lin Yue menyadari bahwa dendam bukanlah jawaban. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu.
Misteri pedang itu pun terkuak. Pedang itu bukan hanya alat pembunuhan, tetapi juga penyimpan kenangan. Setiap tetes darah yang tertumpah di atasnya, setiap janji yang terucap di dekatnya, terukir abadi dalam bilahnya. Pedang itu adalah saksi bisu dosa dan cinta.
Kebenaran pahit terungkap: Feng Yichen, di kehidupan sebelumnya, tidak berkhianat. Ia dijebak oleh selir licik yang haus kekuasaan. Ia mencoba menyelamatkan Bai Lianhua, namun terlambat. Penyesalan dan cinta yang tak terucapkan menghantuinya selama seratus tahun.
Pada akhirnya, Lin Yue memilih keheningan sebagai senjatanya. Ia memaafkan Feng Yichen, bukan dengan kata-kata, tetapi dengan tatapan mata yang tenang dan senyuman lembut. Pengampunan itu lebih menyakitkan daripada dendam, karena itu menunjukkan bahwa ia telah melepaskan beban masa lalu.
Ketika matahari terbenam, Lin Yue berdiri di tepi sungai, melepaskan pedang itu kembali ke air. Ia membiarkan masa lalu pergi, membawa serta luka dan dendamnya. Ia siap untuk membuka lembaran baru, tanpa beban dosa dan janji.
Feng Yichen berdiri di belakangnya, menatap punggungnya dengan penuh kerinduan. Ia tahu bahwa ia telah diampuni, tetapi ia juga tahu bahwa ia mungkin tidak akan pernah bisa memiliki cintanya sepenuhnya.
"Di kehidupan selanjutnya..." bisik angin, membawa serta gema dari suara Bai Lianhua seratus tahun lalu, "...Temukan aku..."
You Might Also Like: 7 Fakta Mimpi Diserang Bekantan Simak
Post a Comment